tanda-tanda yang berkelakar
menuntun pinta kepada api
menjeratku dengan sengit
berlumpur di keniscayaan
pasrah kubenam rasa gelisah
di sepanjang tembok penghianatan
dalam kerumun yang sembab mencari
wajah dan sejarah mereka di sana
terlahir kembali dengan rasa jengah
tengadah melumut sisa kenangan
sangkar ini mulai berdusta
hingga kawan tak lagi sejalan
ketakberdayaan mengarak puncak
hapus jejak tak berbilang
sulur yang enggan memanjang
mengapur tubuhku penuh ludah
suara kecapi tak...seperti nyanyi
mengunci jalanku tuk...kembali
Tidak ada komentar:
Posting Komentar